[Vocaloid Fanfiction] The Feelings Between The Feelings
Rabu, 15 Februari 2012 • 01.43 • 0 comments
Vocaloid

Disclaimer: Fortunately, Vocaloid isn't mine. Except, this script.

Chapter(s): 1/End

Warning(s): AU . Death Chara . Angst . Typo(s) . etc .

Title: The Feelings Between the Feelings

Note: Maaf. Bukan NES orz tapitapitapi, saya akan mencoba untuk melanjutkan NES dalam waktu dekat. Terimakasih!


The Feelings Between the Feelings
(Perasaan Diantara Perasaan)
© 2012 khiikikurohoshi


04 April 2012
At, Crypton Hospital
07:30 AM
Reservation Room

Nama gadis berkuncir dua yang tengah berlari itu adalah Hatsune Miku. Nametag perak yang tersemat di kerah blazernya yang berwarna kuning muda itu adalah buktinya. Anak perempuan itu kemudian ditegur oleh seorang perawat yang memiliki wajah lembut dengan rambut bergelombang berwarna keemasan yang dikuncir kuda. Hatsune Miku nampak menyesal, terbukti bahwa dia membungkuk-bungkukkan badannya beberapakali. Setelah akhirnya sang perawat memaafkannya, Hatsune Miku segera berjalan—dengan sedikit cepat—menuju lift.

Di dalam lift, dia menekan tombol 03. Lalu lift pun bergerak. Tidak sampai sepuluh detik, Miku sudah sampai di lantai tiga. Merasa tidak ada orang yang mengawasinya, dengan bandel Hatsune Miku berlari di koridor lantai tiga, hingga dia akhirnya menemukan sebuah pintu dengan plat bertuliskan angka 016.
Hatsune Miku mengambil napas sebentar, kemudian dia memutar kenop dan membuka pintu tersebut.
Ingatannya kemudian berputar kembali. Tiga tahun yang lalu, ketika dia masih berusia 14 tahun. Waktu itu musim dingin. Rumahnya ramai dikunjungi kerabat jauh. Dan… insiden itu terjadi.

"Miku?"

Ctak.
Suara rendah si pasien di kamar ini membuat Miku kembali ke dunia nyata. Dengan canggung, Miku tersenyum kepada si pasien. Si pasien ikut tersenyum. Parasnya mirip seperti Miku. Wajar, sebab si pasien merupakan adik kandung Miku sendiri. Hatsune Mikuo namanya. Papan nama pasien yang tadi terletak di samping pintu merupakan buktinya.

"Kaget melihatmu datang kemari." Hatsune Mikuo membuka gerbang percakapan. Nada suaranya tenang. Seperti seorang Hatsune Mikuo yang biasanya. Tapi, pancaran matanya terlihat berbeda belakangan ini.

Miku meneguk ludah. Mengeraskan tinjunya. "Maaf." Suara yang tegang dan serak. "SMA itu… benar-benar menyibukkan."

Mikuo memiringkan kepalanya beberapa derajat. "Benarkah?" Miku tetap bergeming di tempatnya. "Aku jadi ingin merasakan kehidupan SMA." Mata dan bibir Mikuo melengkung membentuk senyuman. "Agak bosan juga kalau terus duduk di tempat tidur sambil menatap langit dengan penuh harap."

Miku membuang tasnya ke lantai. "Apa yang kau harapkan…?"

"Hng?" Mikuo tersenyum. "Maaf, aku tidak mendengarmu, Miku."

"Pa-panggil aku dengan sebutan –neesan, Mikuo! Otou-sama dan Okaa-sama selalu menyuruh kita untuk bersikap sopan terhadap yang lebih tua, 'kan? Apa kau sudah lupa dengan tata krama keluarga besar Hatsune?" Miku mendekat ke tempat tidur Mikuo.

Mikuo terdiam. Tapi senyum masih tercetak samar di wajah lesunya. "Maaf, Nee-san."

Miku merasakan ada keringat yang mengalir dari pipinya. "Aku datang… untuk memberitahukanmu sesuatu." Miku mendeklarasikan. Mikuo menolehkan pandangannya ke depan. Tidak menatap Miku. Sepertinya dia sudah bisa menebak kedatangan kakaknya itu.

Miku mengambil napas sejenak. "Keluarga Hatsune yang merupakan keluarga terpandang di masyarakat…" Miku menutup matanya kuat-kuat, sebelum akhirnya berkata, "… tidak membutuhkan orang yang bernama Hatsune Mikuo lagi. Dengan kata lain, Mikuo, margamu dicabut. Selamat tinggal."

Mikuo terdiam.

Miku juga terdiam.

"Nee-san." Agak lama, tapi akhirnya Mikuo angkat bicara. "Tunanganmu… sudah menunggu di luar sejak tadi." Mikuo menyandarkan badannya pada bantal kepala. Miku tidak tahu ekspresi Mikuo seperti apa saat mengatakan itu. Dan, dia tidak ingin tahu.

Grak.
Pintu kamar rawat 016 terbuka lebar. Sosok seorang anak SMA berusia 18 tahun melangkah dengan langkah-langkah seorang gentleman. Paras anak SMA itu tampan dan tegas. Terlihat berwibawa. Anak SMA itu mengalungkan lengannya di leher Miku, sembari berbisik, "ayo pulang."—kepada Miku. Tanpa pikir panjang Miku mengangguk. Dibiarkannya si anak SMA menuntunnya berjalan pergi.

Pintu kamar 016 tertutup.

Angin berhembus sepi. Bias cahaya nampak ragu-ragu. Bahkan, benda bisu tanpa nyawapun, seolah-olah menunjukkan kecanggungan mereka satu sama lain. Kembali, Mikuo sendiri. Dia sudah lupa, kapan terakhir kali ayah dan ibu menjenguknya. Meski kenyataannya, kejadian itu tidak pernah terjadi. Miku bahkan, baru kali ini lagi menjenguknya.

"Parasmu cantik bagaikan dewi Aphrodite. Sikapmu manis layaknya kembang gula. Ketegaranmu, keulesanmu, kebaikan hatimu… air mata yang mengalir di sudut pipimu…" Mikuo terdiam sebentar.

Dia melirik pintu kamar rawatnya, kemudian tersenyum kecut.

"Kenapa kau menangis, Miku…?"
Pertanyaan itu, bagai abu yang terletak di gurun pasir yang luas. Kecil, samar, lalu lenyap.

- Baca naskah lengkap di FFn saya -

.stardustF.

Label:



Older PostNewer Post

Post About Affies Content


The Disclaimer

Photobucket
Hi, there :D You just stepped into my blog. Well... just take your time, ok?

If you wanna follow me, click the '+ follow' button above. Thanks :'D
Blabbling Here

DAFUQ, DON'T SPAMMING, WILL 'YA!?


Credit

Template by : Nur Aiman
Helped by : A B C
Edited by : stardustF

blog-indonesia.com